| Muhammad Saifuddin, MA |
|
|
|
| Senin, 29 September 2008 23:19 |
Lahir di Jepara, 19 Oktober 1971 Menikah tahun 2000 dikarunai 1 orang anak, Magda Salma Tiba di Mesir : 8 November 2001 Alamat di Indonesia : Bantrung, Batealit, Jepara, Jawa Tengah Alamat di Mesir : Bld 314, flat 6, Tagammu’ Khamis, Cairo. Telp: 26175962 Kekeluargaan : KSW Fakultas Ushuluddin, Jurusan Tafsir wa Ulumul Qur’an, Universitas Al-Azhar Cairo Judul Thesis : Al-Ustâdz Teuku Muhammad Hasbî Ash-Shiddieqy Wa Juhûduhû Fî Tafsîril Qur’ânil Karîm Bi Indûnîsiyya Fî Kitâbihî Tafsîr An-Nûr
Al-Ustâdz Teuku Muhammad Hasbî Ash-Shiddieqy Wa Juhûduhû Fî Tafsîril Qur’ânil Karîm Bi Indûnîsiyya Fî Kitâbihî Tafsîr An-Nûr
Prof. T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy dan Perannya dalam Tafsir di Indonesia (Studi Tafsir An-Nur) Tanggal Munaqasyah : 21 November 2007 Dengan predikat : Mumtaz (Cum Laude) Lama Pendidikan : 5 tahun 2002/2003 s.d 2006/2007 Riwayat Pendidikan: SD Bantrung I, 1984; MTsM Bawu Jepara, 1987; MA Ponpes AL-Munawwir, 1990, S1 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Fakultas Ushuluddin, Jurusan Tafsir-Hadits, 1997.
Kesan selama menempuh pendidikan Di Mesir : Ngelmu, angel olehe ketemu (Ilmu, sulit untuk didapat). Di sinilah, di Al-Azhar saya merasakan hal itu. Ibarat seorang sufi, orang yang menuntut ilmu agar bisa sampai pada tingkatan ma’rifat (baca : ilmu, bukan hanya sekedar ijazah formal) harus meniti maqâmât seperti taubah, wara’ tawakkal, sabar. Juga mengalami ahwâl seperti fana’, sakr, ghaibah (kehilangan semangat, down), baqa’, shahw, tajalli (semangat, percaya diri, aktualisasi diri). ‘Ilm, satu kosa kata (Arab) yang huruf-hurufnya (ain, lam, mim) sama dengan huruf-huruf pada kosa kata ‘amal (ain, mim, lam). Artinya satu dengan yang lain terjadi hubungan dialektis. Hubungan antara teori dan praktik, buku dengan realita, kampus dengan masyarakat. Di sini, di Al-Azhar, saya menemukan fenomena itu. Al-Azhar adalah bagian dari masyarakat Mesir. Kendati di gerbangnya dijaga polisi, namun masyarakat, tradisinya baur di dalamnya. Ada orang awam yang dengan enjoy masuk ke ruang kuliah bertanya suatu masalah pada DR. Farid Washil-mantan mufti. Al-Azhar ada di koran, TV, radio, masjid-masjid. Namun, di kampus lain, di negeri lain barangkali kampus tidak dijaga polisi, namun kampus sama sekali terpisah dengan kondisi riil masyarakat. Di kampus diajari berbagai madzhab, wacana namun masyarakatnya tidak lain hanyalah masyarakat syafi’I, tradisional.
Pesan Bagi Mahasiswa Lain : Di bangku kuliah Al-Azhar kita diajari berbagai madzhab, pemikiran, sosok para nabi, sahabat, ulama’, kaum munafik, ahli kitab, orang-orang kafir, ketulusan, keangkuhan, kerapian, kesemrawutan; dalam dunia riil –dalam masyarakat riil- kita juga menemukan fenomena itu. Terapkan ilmu kita, ajaran nabi kita, ulama’ kita bagaimana mempergauli berbagai karakter, tipikal, fenomena yang ada dalam masyarakat. Jangan berhenti belajar di Al-Azhar sebelum menemukan rahasia ini. Berita Lainnya:
Berita Sebelumnya:
|




